CVPD, KAMBING HITAM KETERPURUKAN JERUK NASIONAL

CVPD, KAMBING HITAM KETERPURUKAN JERUK NASIONAL?.

Oleh : Ir.  Sutopo, MSi

HP: 081233440678

Email : opotus09@yahoo.co.id

 

 

Tidak aneh lagi jika penyakit CVPD (Citrus Vein Vloem) atau greening yang memiliki nama internasional Huang Lung Bin merupakan penyakit degenerasi yang selalu dituding sebagai penyebab utama terpuruknya sentra jeruk di Indonesia. Sebaliknya akan terasa asing terdengar di telinga jika ada pendapat bahwa CVPD hanya sebagai kambing hitam belaka, yaitu suatu perilaku menyalahkan sesuatu/orang lain ketika terjadi kesalahan dan kegagalan.  Kebiasaan mengkabing hitamkan CVPD mudah difahami karena penyakit ini selama periode 1960 – 1980an diduga sebagai penyebab kehancuran jutaan tanaman jeruk yang ada di sentra produksi Indonesia. Upaya penyembuhan tanaman terserang dengan menginfus menggunakan Oxytetracyclin tidak memberikan hasil memuaskan, dan konon menurut ahli penyakit perjerukan di planet bumi ini CVPD belum ditemukan obatnya sehingga bisa dianggap sebagai bahaya laten bagi tanaman jeruk.

Revitalisasi jeruk di Indonesia melalui tindakan pembongkaran tanaman sakit (eradikasi), diikuti dengan penanaman baru yang dilakukan sejak puluhan tahun lalu ternyata belum memberikan hasil memuaskan hingga sekarang.  Kondisi tidak menyenangkan ini diperparah oleh kenyataan bahwa data ekspor impor buah jeruk meningkat nyata terutama sejak penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China.  Jeruk keprok mandarin dari negeri Saolin tidak hanya membajiri pasar buah di super market tetapi juga merambah pasar tradisional yang jauh dari kota besar.  Jeruk mandarin memang harganya bersaing dan penampilan luarnya lebih menarik,  tetapi perlu disadari nilai gizi jeruk kita tentu lebih unggul dan sehat karena tidak melalui proses pengawetan yang menggunakan bahan kimia dan penyimpanan yang lama.

Tidak salah menobatkan CVPD sebagai biang kerok rusaknya sentra jeruk kita, tetapi tidak selalu benar anggapan bahwa CVPD merupakan satu-satunya atau penyebab utama merosotnya sentra jeruk keprok di berbagi tempat seperti di Soe (NTT), Ponorogo dan Magetan (Jatim), Tejakula (Bali), Tawangmangu (Jateng), Garut (Jabar), dan lain-lain.  Penyakit CVPD memang harus selalu diwaspadai dalam setiap pengembangan jeruk, tetapi tidak perlu menimbulkan ketakutan berlebihan yang justru mengakibatkan keteledoran terhadap masalah teknis lainnya yang ternyata memiliki pengaruh lebih besar. Hal-hal yang bersifat kontra produktif dalam revitalisasi jeruk baik disadari maupun tanpa disadari terlalu sering terjadi di lapangan antara lain tentang mutu benih, lingkungan tumbuh, pengetahuan dan penguasaan teknologi, pemahaman terhadap gejala serangan CVPD, dan sarana produksi pertanian.  Jika masalah ini tidak ditangani, pencapaian tujuan Program Keprokisasi Jeruk Nasional akan semakin jauh dari kenyataan.

 Mutu Benih. Salah satu cara penularan CVPD adalah melalui mata tempel yang digunakan untuk menghasilkan benih jeruk.  Untuk menghasilkan benih jeruk bermutu dan bebas penyakit, Balai Penelitian Tanaman jeruk dan Buah Subtropika (BLITJESTRO) merakit suatu Teknologi Produksi Benih Jeruk Bebas Penyakit.  Yang dimaksud benih bermutu adalah bebas dari patogen sistemik tertentu (CVPD, CTV, CVEV, CEV, CPsV, CcaV dan CTLV), sama dengan induknya yaitu varietas batang atas dan bawah dijamin kemurniannya, dan tahapan produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku.  Benih jeruk bermutu biasanya diberi label biru yang dikeluarkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH). Harus diwaspadai bahwa tidak semua benih berlabel pasti bermutu.  Prakteknya di lapangan masih ditemui benih berlabel tetapi labelnya ASPAL (asli tapi palsu)  yang tentunya baik kebenaran varietas dan kesehatan mata tempelnya juga diragukan. Kalau di derah-daerah yang pengawasan benihnya termasuk ketat masih bisa terjadi kasus pemalsuan label, apalagi di tempat lain.

Lingkungan tumbuh. Kepemilikan lahan jeruk yang sempit dan terpencar adalah salah satu masalah dalam pengembangan jeruk.  Masalah lain yaitu sebagian besar jenis jeruk keprok seperti keprok Soe, Batu 55, Garut, Pulung, Tawangmangu, dan lain-lain menghendaki lingkungan dataran tinggi.  Lingkungan ini kebanyakan adalah lahan kering yang marginal, misalnya sentra jeruk di Soe yang lapisan tanahnya tipis, miskin hara, dan sulit untuk mendapatkan irigasi.  Jeruk di tempat ini pada tahun pertama hingga keempat pertumbuhannya cukup baik, tetapi pada tahun selanjutnya ketika nutrisi tanah tidak mendukung lagi dan dengan adanya panen buah yang sebenarnya merupakan proses pemiskinan lahan, maka pada saat itu tanaman mulai menunjukkan gejala kemerosotan.  Kemunduran mutu tanaman jeruk keprok yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan jenis lainnya yang ditanam di lahan yang lebih subur sering dianggap bahwa jeruk keprok termasuk lebih peka terhadap CVPD, meskipun kenyataannya karena tanaman kekurangn nutrisi.

Pengetahuan dan penguasaan teknologi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada petani, kenyataannya belum semua petani memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi budidaya jeruk yang memadai, terutama petani yang lahan jeruknya dibawah 0,5 hektar atau yang menanam jeruk karena adanya bantuan benih.  Kelompok terakhir memiliki resiko kegagalan paling tinggi kerana biasanya menanam jeruk hanya sebagai tanaman sampingan, tanaman utamanya adalah tanaman pangan yang jadi andalan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.  Lemahnya pengetahuan petani memahami kebutuhan toknologi budidaya jeruk juga bisa dilihat dari cara memelihara jeruk yag tidak jauh berbeda dengan tanaman buah tahunan lain seperti mangga atau rambutan.   Lebih parah lagi jika beranggapan bahwa benih berlabel bebas penyakit tidak akan terserang CVPD sehingga mereka cenderung sembrono merawat tanaman.  Kenyataannya benih berlabel bebas penyakit bukan berarti tahan serangan CVPD.  Tanaman di lapangan bisa tertular jika di sekitar kebun terdapat tanaman yang terserang (sumber penular) dan ada serangga Diaphorina Citri sejenis kutu loncat yang menularkannya.

Pemahaman terhadap gejala serangan CVPD.  Semua sepakat bahwa CVPD merupakan penyakit yang harus selalau diwaspadai.  Jika tanaman terserang disarankan untuk dieradikasi yaitu dibongkar, kemudian dibakar untuk mencegah meluasnya serangan.  Ironisnya, kebanyakan petani dan bahkan petugas lapangan tidak sedikit yang kesulitan untuk membedakan antara gejala serangan CVPD dan kekurangan nutrisi.  Gejala serangan CVPD yang muncul pada daun sering rancu dengan gejala kekurangan unsur hara mikro meskipun sebenarnya bisa dibedakan, hanya membutuhkan pengalaman lapangan dan ketelitian.  Pemeliharaan intensif terutama memenuhi kebutuhan pupuk baik makro maupun mikro sangat membantu untuk mendiagnosis gejala yang muncul pada daun.  Kelemahan ini sering digunakan sebagai senjata mengkambing hitamkan CVPD.  Jika tidak diperbaiki, kesalahan memahami gejala yang muncul bisa berakibat fatal karena tanaman harus dibongkar meskpiun belum tentu diserang CVPD.

Sarana produksi pertanian (saprotan).  Tanaman jeruk termasuk jenis tanaman manja yang membutuhkan teknologi dan intensitas pengelolaan lebih intensif, serta biaya tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman buah tahunan pada umumnya.  Sayangnya, tidak di semua daerah pengembangan jeruk mudah untuk mendapatkan saprotan yang memadai, kalaupun tersedia harganya tidak memihak petani. Masalah ini menjadi hambatan bagi petani kecil untuk menerapkan teknologi anjuran karena harus menanggung biaya pemeliharaan cukup tinggi sebelum tanaman menghasilkan buah (sekitar 4 tahun).  Disisi lain, petani harus mengelurkan biaya hidup dan biaya untuk memelihara tanaman pangannya. Hal ini menyebabkan bahwa sebagian besar petani jeruk yang berhasil adalah kelompok petani bermodal tinggi atau petani berdasi, sedangkan petani kecil biasanya hanya bertahan sekitar 5 tahun karena daya dukung tanahnya telah menurun.

Salah satu contoh keberhasilan revitalisasi jeruk keprok adalah petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu.  Di tempat ini petani tidak mengistimewakan pengendalian CVPD semata tetapi lebih mengedepankan penerapan seluruh teknologi budidaya jeruk yang baik dan benar seperti pemupukan, pemangkasan cabang, pengendalian hama penyakit secara umum, pengendalian gulma dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, pada saat petani jeruk di tempat lain sudah tidak bisa bertahan seperti sekarang ini, petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu cenderung berkembang bahkan  beberapa petani apel dan jeruk manis di kota ini beralih ke jeruk keprok yang dirasakan memiliki nilai kompetisi lebih unggul.  Keberhasilan petani jeruk keprok batu 55 merupakan bukti dan sekaligus pelajaran bahwa keberhasilan pengembangan jeruk tidak semata-mata karena penggunaan bibit bebas penyakit dan pengendalian CVPD tetapi semua kaidah budidaya yang baik dan benar harus diterapkan.  Jika belum berhasil tidak perlu mengkambing hitamkan CVPD tetapi perlu introspeksi apakah masih melakukan hal-hal yang bersifat kontra produktif dengan tujuan pengembangan jeruk keprok.

About these ads

About thariqsirajramadhan

lahir di kota magetan, putra kedua dari bpk. sutopo
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s