CVPD, Kambing Hitan Terpuruknya Sentra Jeruk Nasional

CVPD, Kambing Hitam Terpuruknya Sentra Jeruk Nasional ?.

Oleh : Ir.  Sutopo, MSi

HP: 081233440678

Tidak aneh lagi jika penyakit CVPD (Citrus Vein Vloem) atau greening yang memiliki nama internasional Huang Lung Bin merupakan penyakit degenerasi yang selalu dituding sebagai penyebab utama terpuruknya sentra jeruk di Indonesia. Sebaliknya akan terasa asing terdengar di telinga jika ada pendapat bahwa CVPD hanya sebagai kambing hitam belaka, yaitu suatu perilaku menyalahkan sesuatu/orang lain ketika terjadi kesalahan dan kegagalan.  Kebiasaan mengkabing hitamkan CVPD mudah difahami karena penyakit ini selama periode 1960 – 1980an diduga sebagai penyebab kehancuran jutaan tanaman jeruk yang ada di sentra produksi Indonesia. Upaya penyembuhan tanaman terserang dengan menginfus menggunakan Oxytetracyclin tidak memberikan hasil memuaskan, dan konon menurut ahli penyakit perjerukan di planet bumi ini CVPD belum ditemukan obatnya sehingga bisa dianggap sebagai bahaya laten bagi tanaman jeruk.

Revitalisasi jeruk di Indonesia melalui tindakan pembongkaran tanaman sakit (eradikasi), diikuti dengan penanaman baru yang dilakukan sejak puluhan tahun lalu ternyata belum memberikan hasil memuaskan hingga sekarang.  Kondisi tidak menyenangkan ini diperparah oleh kenyataan bahwa data ekspor impor buah jeruk meningkat nyata terutama sejak penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China.  Jeruk keprok mandarin dari negeri Saolin tidak hanya membajiri pasar buah di super market tetapi juga merambah pasar tradisional yang jauh dari kota besar.  Jeruk mandarin memang harganya bersaing dan penampilan luarnya lebih menarik,  tetapi perlu disadari nilai gizi jeruk kita tentu lebih unggul dan sehat karena tidak melalui proses pengawetan yang menggunakan bahan kimia dan penyimpanan yang lama.

Tidak salah menobatkan CVPD sebagai biang kerok rusaknya sentra jeruk kita, tetapi tidak selalu benar anggapan bahwa CVPD merupakan satu-satunya atau penyebab utama merosotnya sentra jeruk keprok di berbagi tempat seperti di Soe (NTT), Ponorogo dan Magetan (Jatim), Tejakula (Bali), Tawangmangu (Jateng), Garut (Jabar), dan lain-lain.  Penyakit CVPD memang harus selalu diwaspadai dalam setiap pengembangan jeruk, tetapi tidak perlu menimbulkan ketakutan berlebihan yang justru mengakibatkan keteledoran terhadap masalah teknis lainnya yang ternyata memiliki pengaruh lebih besar. Hal-hal yang bersifat kontra produktif dalam revitalisasi jeruk baik disadari maupun tanpa disadari terlalu sering terjadi di lapangan antara lain tentang mutu benih, lingkungan tumbuh, pengetahuan dan penguasaan teknologi, pemahaman terhadap gejala serangan CVPD, dan sarana produksi pertanian.  Jika masalah ini tidak ditangani, pencapaian tujuan Program Keprokisasi Jeruk Nasional akan semakin jauh dari kenyataan.

 Mutu Benih. Salah satu cara penularan CVPD adalah melalui mata tempel yang digunakan untuk menghasilkan benih jeruk.  Untuk menghasilkan benih jeruk bermutu dan bebas penyakit, Balai Penelitian Tanaman jeruk dan Buah Subtropika (BLITJESTRO) merakit suatu Teknologi Produksi Benih Jeruk Bebas Penyakit.  Yang dimaksud benih bermutu adalah bebas dari patogen sistemik tertentu (CVPD, CTV, CVEV, CEV, CPsV, CcaV dan CTLV), sama dengan induknya yaitu varietas batang atas dan bawah dijamin kemurniannya, dan tahapan produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku.  Benih jeruk bermutu biasanya diberi label biru yang dikeluarkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH). Harus diwaspadai bahwa tidak semua benih berlabel pasti bermutu.  Prakteknya di lapangan masih ditemui benih berlabel tetapi labelnya ASPAL (asli tapi palsu)  yang tentunya baik kebenaran varietas dan kesehatan mata tempelnya juga diragukan. Kalau di derah-daerah yang pengawasan benihnya termasuk ketat masih bisa terjadi kasus pemalsuan label, apalagi di tempat lain.

Lingkungan tumbuh. Kepemilikan lahan jeruk yang sempit dan terpencar adalah salah satu masalah dalam pengembangan jeruk.  Masalah lain yaitu sebagian besar jenis jeruk keprok seperti keprok Soe, Batu 55, Garut, Pulung, Tawangmangu, dan lain-lain menghendaki lingkungan dataran tinggi.  Lingkungan ini kebanyakan adalah lahan kering yang marginal, misalnya sentra jeruk di Soe yang lapisan tanahnya tipis, miskin hara, dan sulit untuk mendapatkan irigasi.  Jeruk di tempat ini pada tahun pertama hingga keempat pertumbuhannya cukup baik, tetapi pada tahun selanjutnya ketika nutrisi tanah tidak mendukung lagi dan dengan adanya panen buah yang sebenarnya merupakan proses pemiskinan lahan, maka pada saat itu tanaman mulai menunjukkan gejala kemerosotan.  Kemunduran mutu tanaman jeruk keprok yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan jenis lainnya yang ditanam di lahan yang lebih subur sering dianggap bahwa jeruk keprok termasuk lebih peka terhadap CVPD, meskipun kenyataannya karena tanaman kekurangn nutrisi.

Pengetahuan dan penguasaan teknologi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada petani, kenyataannya belum semua petani memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi budidaya jeruk yang memadai, terutama petani yang lahan jeruknya dibawah 0,5 hektar atau yang menanam jeruk karena adanya bantuan benih.  Kelompok terakhir memiliki resiko kegagalan paling tinggi kerana biasanya menanam jeruk hanya sebagai tanaman sampingan, tanaman utamanya adalah tanaman pangan yang jadi andalan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.  Lemahnya pengetahuan petani memahami kebutuhan toknologi budidaya jeruk juga bisa dilihat dari cara memelihara jeruk yag tidak jauh berbeda dengan tanaman buah tahunan lain seperti mangga atau rambutan.   Lebih parah lagi jika beranggapan bahwa benih berlabel bebas penyakit tidak akan terserang CVPD sehingga mereka cenderung sembrono merawat tanaman.  Kenyataannya benih berlabel bebas penyakit bukan berarti tahan serangan CVPD.  Tanaman di lapangan bisa tertular jika di sekitar kebun terdapat tanaman yang terserang (sumber penular) dan ada serangga Diaphorina Citri sejenis kutu loncat yang menularkannya.

Pemahaman terhadap gejala serangan CVPD.  Semua sepakat bahwa CVPD merupakan penyakit yang harus selalau diwaspadai.  Jika tanaman terserang disarankan untuk dieradikasi yaitu dibongkar, kemudian dibakar untuk mencegah meluasnya serangan.  Ironisnya, kebanyakan petani dan bahkan petugas lapangan tidak sedikit yang kesulitan untuk membedakan antara gejala serangan CVPD dan kekurangan nutrisi.  Gejala serangan CVPD yang muncul pada daun sering rancu dengan gejala kekurangan unsur hara mikro meskipun sebenarnya bisa dibedakan, hanya membutuhkan pengalaman lapangan dan ketelitian.  Pemeliharaan intensif terutama memenuhi kebutuhan pupuk baik makro maupun mikro sangat membantu untuk mendiagnosis gejala yang muncul pada daun.  Kelemahan ini sering digunakan sebagai senjata mengkambing hitamkan CVPD.  Jika tidak diperbaiki, kesalahan memahami gejala yang muncul bisa berakibat fatal karena tanaman harus dibongkar meskpiun belum tentu diserang CVPD.

Sarana produksi pertanian (saprotan).  Tanaman jeruk termasuk jenis tanaman manja yang membutuhkan teknologi dan intensitas pengelolaan lebih intensif, serta biaya tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman buah tahunan pada umumnya.  Sayangnya, tidak di semua daerah pengembangan jeruk mudah untuk mendapatkan saprotan yang memadai, kalaupun tersedia harganya tidak memihak petani. Masalah ini menjadi hambatan bagi petani kecil untuk menerapkan teknologi anjuran karena harus menanggung biaya pemeliharaan cukup tinggi sebelum tanaman menghasilkan buah (sekitar 4 tahun).  Disisi lain, petani harus mengelurkan biaya hidup dan biaya untuk memelihara tanaman pangannya. Hal ini menyebabkan bahwa sebagian besar petani jeruk yang berhasil adalah kelompok petani bermodal tinggi atau petani berdasi, sedangkan petani kecil biasanya hanya bertahan sekitar 5 tahun karena daya dukung tanahnya telah menurun.

Salah satu contoh keberhasilan revitalisasi jeruk keprok adalah petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu.  Di tempat ini petani tidak mengistimewakan pengendalian CVPD semata tetapi lebih mengedepankan penerapan seluruh teknologi budidaya jeruk yang baik dan benar seperti pemupukan, pemangkasan cabang, pengendalian hama penyakit secara umum, pengendalian gulma dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, pada saat petani jeruk di tempat lain sudah tidak bisa bertahan seperti sekarang ini, petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu cenderung berkembang bahkan  beberapa petani apel dan jeruk manis di kota ini beralih ke jeruk keprok yang dirasakan memiliki nilai kompetisi lebih unggul.  Keberhasilan petani jeruk keprok batu 55 merupakan bukti dan sekaligus pelajaran bahwa keberhasilan pengembangan jeruk tidak semata-mata karena penggunaan bibit bebas penyakit dan pengendalian CVPD tetapi semua kaidah budidaya yang baik dan benar harus diterapkan.  Jika belum berhasil tidak perlu mengkambing hitamkan CVPD tetapi perlu introspeksi apakah masih melakukan hal-hal yang bersifat kontra produktif dengan tujuan pengembangan jeruk keprok.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

CVPD, KAMBING HITAM KETERPURUKAN JERUK NASIONAL

CVPD, KAMBING HITAM KETERPURUKAN JERUK NASIONAL?.

Oleh : Ir.  Sutopo, MSi

HP: 081233440678

Email : opotus09@yahoo.co.id

 

 

Tidak aneh lagi jika penyakit CVPD (Citrus Vein Vloem) atau greening yang memiliki nama internasional Huang Lung Bin merupakan penyakit degenerasi yang selalu dituding sebagai penyebab utama terpuruknya sentra jeruk di Indonesia. Sebaliknya akan terasa asing terdengar di telinga jika ada pendapat bahwa CVPD hanya sebagai kambing hitam belaka, yaitu suatu perilaku menyalahkan sesuatu/orang lain ketika terjadi kesalahan dan kegagalan.  Kebiasaan mengkabing hitamkan CVPD mudah difahami karena penyakit ini selama periode 1960 – 1980an diduga sebagai penyebab kehancuran jutaan tanaman jeruk yang ada di sentra produksi Indonesia. Upaya penyembuhan tanaman terserang dengan menginfus menggunakan Oxytetracyclin tidak memberikan hasil memuaskan, dan konon menurut ahli penyakit perjerukan di planet bumi ini CVPD belum ditemukan obatnya sehingga bisa dianggap sebagai bahaya laten bagi tanaman jeruk.

Revitalisasi jeruk di Indonesia melalui tindakan pembongkaran tanaman sakit (eradikasi), diikuti dengan penanaman baru yang dilakukan sejak puluhan tahun lalu ternyata belum memberikan hasil memuaskan hingga sekarang.  Kondisi tidak menyenangkan ini diperparah oleh kenyataan bahwa data ekspor impor buah jeruk meningkat nyata terutama sejak penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China.  Jeruk keprok mandarin dari negeri Saolin tidak hanya membajiri pasar buah di super market tetapi juga merambah pasar tradisional yang jauh dari kota besar.  Jeruk mandarin memang harganya bersaing dan penampilan luarnya lebih menarik,  tetapi perlu disadari nilai gizi jeruk kita tentu lebih unggul dan sehat karena tidak melalui proses pengawetan yang menggunakan bahan kimia dan penyimpanan yang lama.

Tidak salah menobatkan CVPD sebagai biang kerok rusaknya sentra jeruk kita, tetapi tidak selalu benar anggapan bahwa CVPD merupakan satu-satunya atau penyebab utama merosotnya sentra jeruk keprok di berbagi tempat seperti di Soe (NTT), Ponorogo dan Magetan (Jatim), Tejakula (Bali), Tawangmangu (Jateng), Garut (Jabar), dan lain-lain.  Penyakit CVPD memang harus selalu diwaspadai dalam setiap pengembangan jeruk, tetapi tidak perlu menimbulkan ketakutan berlebihan yang justru mengakibatkan keteledoran terhadap masalah teknis lainnya yang ternyata memiliki pengaruh lebih besar. Hal-hal yang bersifat kontra produktif dalam revitalisasi jeruk baik disadari maupun tanpa disadari terlalu sering terjadi di lapangan antara lain tentang mutu benih, lingkungan tumbuh, pengetahuan dan penguasaan teknologi, pemahaman terhadap gejala serangan CVPD, dan sarana produksi pertanian.  Jika masalah ini tidak ditangani, pencapaian tujuan Program Keprokisasi Jeruk Nasional akan semakin jauh dari kenyataan.

 Mutu Benih. Salah satu cara penularan CVPD adalah melalui mata tempel yang digunakan untuk menghasilkan benih jeruk.  Untuk menghasilkan benih jeruk bermutu dan bebas penyakit, Balai Penelitian Tanaman jeruk dan Buah Subtropika (BLITJESTRO) merakit suatu Teknologi Produksi Benih Jeruk Bebas Penyakit.  Yang dimaksud benih bermutu adalah bebas dari patogen sistemik tertentu (CVPD, CTV, CVEV, CEV, CPsV, CcaV dan CTLV), sama dengan induknya yaitu varietas batang atas dan bawah dijamin kemurniannya, dan tahapan produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku.  Benih jeruk bermutu biasanya diberi label biru yang dikeluarkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH). Harus diwaspadai bahwa tidak semua benih berlabel pasti bermutu.  Prakteknya di lapangan masih ditemui benih berlabel tetapi labelnya ASPAL (asli tapi palsu)  yang tentunya baik kebenaran varietas dan kesehatan mata tempelnya juga diragukan. Kalau di derah-daerah yang pengawasan benihnya termasuk ketat masih bisa terjadi kasus pemalsuan label, apalagi di tempat lain.

Lingkungan tumbuh. Kepemilikan lahan jeruk yang sempit dan terpencar adalah salah satu masalah dalam pengembangan jeruk.  Masalah lain yaitu sebagian besar jenis jeruk keprok seperti keprok Soe, Batu 55, Garut, Pulung, Tawangmangu, dan lain-lain menghendaki lingkungan dataran tinggi.  Lingkungan ini kebanyakan adalah lahan kering yang marginal, misalnya sentra jeruk di Soe yang lapisan tanahnya tipis, miskin hara, dan sulit untuk mendapatkan irigasi.  Jeruk di tempat ini pada tahun pertama hingga keempat pertumbuhannya cukup baik, tetapi pada tahun selanjutnya ketika nutrisi tanah tidak mendukung lagi dan dengan adanya panen buah yang sebenarnya merupakan proses pemiskinan lahan, maka pada saat itu tanaman mulai menunjukkan gejala kemerosotan.  Kemunduran mutu tanaman jeruk keprok yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan jenis lainnya yang ditanam di lahan yang lebih subur sering dianggap bahwa jeruk keprok termasuk lebih peka terhadap CVPD, meskipun kenyataannya karena tanaman kekurangn nutrisi.

Pengetahuan dan penguasaan teknologi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada petani, kenyataannya belum semua petani memiliki pengetahuan dan menguasai teknologi budidaya jeruk yang memadai, terutama petani yang lahan jeruknya dibawah 0,5 hektar atau yang menanam jeruk karena adanya bantuan benih.  Kelompok terakhir memiliki resiko kegagalan paling tinggi kerana biasanya menanam jeruk hanya sebagai tanaman sampingan, tanaman utamanya adalah tanaman pangan yang jadi andalan untuk menopang kebutuhan hidup sehari-hari.  Lemahnya pengetahuan petani memahami kebutuhan toknologi budidaya jeruk juga bisa dilihat dari cara memelihara jeruk yag tidak jauh berbeda dengan tanaman buah tahunan lain seperti mangga atau rambutan.   Lebih parah lagi jika beranggapan bahwa benih berlabel bebas penyakit tidak akan terserang CVPD sehingga mereka cenderung sembrono merawat tanaman.  Kenyataannya benih berlabel bebas penyakit bukan berarti tahan serangan CVPD.  Tanaman di lapangan bisa tertular jika di sekitar kebun terdapat tanaman yang terserang (sumber penular) dan ada serangga Diaphorina Citri sejenis kutu loncat yang menularkannya.

Pemahaman terhadap gejala serangan CVPD.  Semua sepakat bahwa CVPD merupakan penyakit yang harus selalau diwaspadai.  Jika tanaman terserang disarankan untuk dieradikasi yaitu dibongkar, kemudian dibakar untuk mencegah meluasnya serangan.  Ironisnya, kebanyakan petani dan bahkan petugas lapangan tidak sedikit yang kesulitan untuk membedakan antara gejala serangan CVPD dan kekurangan nutrisi.  Gejala serangan CVPD yang muncul pada daun sering rancu dengan gejala kekurangan unsur hara mikro meskipun sebenarnya bisa dibedakan, hanya membutuhkan pengalaman lapangan dan ketelitian.  Pemeliharaan intensif terutama memenuhi kebutuhan pupuk baik makro maupun mikro sangat membantu untuk mendiagnosis gejala yang muncul pada daun.  Kelemahan ini sering digunakan sebagai senjata mengkambing hitamkan CVPD.  Jika tidak diperbaiki, kesalahan memahami gejala yang muncul bisa berakibat fatal karena tanaman harus dibongkar meskpiun belum tentu diserang CVPD.

Sarana produksi pertanian (saprotan).  Tanaman jeruk termasuk jenis tanaman manja yang membutuhkan teknologi dan intensitas pengelolaan lebih intensif, serta biaya tinggi dibandingkan dengan jenis tanaman buah tahunan pada umumnya.  Sayangnya, tidak di semua daerah pengembangan jeruk mudah untuk mendapatkan saprotan yang memadai, kalaupun tersedia harganya tidak memihak petani. Masalah ini menjadi hambatan bagi petani kecil untuk menerapkan teknologi anjuran karena harus menanggung biaya pemeliharaan cukup tinggi sebelum tanaman menghasilkan buah (sekitar 4 tahun).  Disisi lain, petani harus mengelurkan biaya hidup dan biaya untuk memelihara tanaman pangannya. Hal ini menyebabkan bahwa sebagian besar petani jeruk yang berhasil adalah kelompok petani bermodal tinggi atau petani berdasi, sedangkan petani kecil biasanya hanya bertahan sekitar 5 tahun karena daya dukung tanahnya telah menurun.

Salah satu contoh keberhasilan revitalisasi jeruk keprok adalah petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu.  Di tempat ini petani tidak mengistimewakan pengendalian CVPD semata tetapi lebih mengedepankan penerapan seluruh teknologi budidaya jeruk yang baik dan benar seperti pemupukan, pemangkasan cabang, pengendalian hama penyakit secara umum, pengendalian gulma dan lain sebagainya.  Oleh karena itu, pada saat petani jeruk di tempat lain sudah tidak bisa bertahan seperti sekarang ini, petani jeruk keprok Batu 55 di Kota Batu cenderung berkembang bahkan  beberapa petani apel dan jeruk manis di kota ini beralih ke jeruk keprok yang dirasakan memiliki nilai kompetisi lebih unggul.  Keberhasilan petani jeruk keprok batu 55 merupakan bukti dan sekaligus pelajaran bahwa keberhasilan pengembangan jeruk tidak semata-mata karena penggunaan bibit bebas penyakit dan pengendalian CVPD tetapi semua kaidah budidaya yang baik dan benar harus diterapkan.  Jika belum berhasil tidak perlu mengkambing hitamkan CVPD tetapi perlu introspeksi apakah masih melakukan hal-hal yang bersifat kontra produktif dengan tujuan pengembangan jeruk keprok.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENANGANAN PASCA PANEN JERUK

Penanganan Pasca Panen Jeruk

(Sutopo, Balitjestro)

Aktivitas panen dan penanganan seperti teknik pemanenan yang kurang tepat, sortasi yang tidak baik, pengemasan dan pengepakan, pengangkutan dan penyimpanan yang kurang diperhatikan serta adanya serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan kerusakan buah jeruk hingga sekitar 25%.  Untuk menghasilkan jeruk bermutu tinggi, alur penanganan panen hingga pemasaran yang perlu diterapkan adalah sebagai berikut :

Panen

Umur buah/tingkat kematangan buah yang dipanen, kondisi saat panen, dan cara panen merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi mutu jeruk.  Umur buah yang optimum untuk dipanen adalah sekitar 8 bulan dari saat bunga mekar.  Ciri-ciri buah yang siap dipanen : jika dipijit tidak terlalu keras; bagian bawah  buah jika dipijit terasa lunak dan jika dijentik dengan jari tidak berbunyi nyaring, warnanya menarik (muncul warna kuning untuk jeruk siam), dan kadar gula (PTT) minimal 10%.  Kadar gula dapat ditentukan dengan alat hand refraktometer di kebun.  Dalam satu pohon, buah jeruk tidak semuanya dapat dipanen sekaligus, tergantung pada kematangannya. Jeruk termasuk buah yang kandungan patinya rendah sehingga bila dipanen masih muda tidak akan menjadi masak seperti mangga. Jika panen dilakukan setelah melampaui tingkat kematangan optimum atau buah dibiarkan terlalu lama pada pohon, sari buah akan berkurang dan akan banyak energi yang dikuras dari pohon sehingga mengganggu kesehatan tanaman dan produksi musim berikutnya. Panen yang tepat adalah pada saat buah telah masak dan belum memasuki fase akhir pemasakan buah.  Dalam penyimpanan, rasa asam akan berkurang karena terjadi penguraian persenyawaan asam lebih cepat dari pada peruraian gula.

Kerusakan mekanis selama panen bisa menjadi masalah yang serius, karena kerusakan tersebut menentukan kecepatan produk untuk membusuk, meningkatnya kehilangan cairan dan meningkatnya laju respirasi serta produksi etilen yang berakibat pada cepatnya kemunduran produk. Panen dapat dilakukang dengan tangan maupun gunting. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam panen jeruk :

  • Jangan melakukan panen sebelum embun pagi lenyap.
  • Tangkai buah yang terlalu panjang akan melukai buah jeruk yang lain sehingga harus di potong di sisakan sekitar 2 mm dari buah.
  • Panen buah di pohon yang tinggi harus menggunakan tangga, agar cabang dan ranting tidak rusak.
  • Jangan memanen buah dengan cara memanjat pohon, karena kaki kotor dapat menyebarkan penyakit pada pohon
  • Pemanen buah dilengkapi dengan keranjang yang dilapisi karung plastik atau kantong yang dapat digantungkan pada leher.
  • Wadah penampung buah terbuat dari bahan yang lunak, bersih, dan buah diletakkan secara perlahan.  Krat walau biaya awalnya mahal, bisa ditumpuk, bertahan lama, dapat dipakai berulang-ulang dan mudah dibersihkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jeruk yang cara pengambilanya berhati-hati dan disimpan pada temperatur kamar 23-31oC selama 3 minggu, yang busuk mencapai 7 %; buah yang dijatuhkan diatas lantai yang busuk sebanyak 12 %; buah yang dipetik basah yang busuk sebesar 21 %; buah yang dipetik terlalu masak yang busuk sebanyak 29 %;  buah yang terkena sinar matahari selama satu hari yang busuk sebanyak 38 %.

2.  Sortasi dan Pencucian

Sortasi atau seleksi merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan setelah panen yang umumnya dikerjakan di bangsal pengemasan atau di kebun dengan tujuan memisahkan buah yang layak dan tidak layak  untuk dipasarkan (busuk, terserang penyakit, cacat, terlalu muda/tua dan lain-lain).  Sortasi juga dilakukan untuk memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah atau pasar.  Setelah sortasi, buah jeruk dicuci untuk membersihkan kotoran dan pestisida yang masih menempel pada permukaan kulit buah.  Buah direndam dalam air yang dicampur deterjen atau cairan pembersih 0,5-1 %, kemudian digosok pelan-pelan menggunakan lap halus atau sikat lunak jangan sampai merusak kulit.  Selanjutnya buah dibilas dengan air bersih, dikeringkan menggunakan lap lunak dan bersih atau ditiriskan.

3. Pemutuan

Pemutuan atau grading dilakukan setelah sortasi dan pencucian untuk mengelompokan buah berdasarkan mutu yaitu, ukuran, berat, warna, bentuk, tekstur, dan kebebasan buah dari kotoran atau bahan asing. Peranan penerintah tidak hanya terbatas pada bidang pemasaran saja. Tetapi yang paling penting ialah penetapan standarisasi buah, yang mencakup kualitas buah. Sehubumgan dengan standarisasi buah tersebut, Standar Nasional Indonesia (SNI) menggolongkan buah jeruk kedalam 4 kelas berdasarkan bobot atau diameter buah (Tabel 1).

Tabel 1.  Kriteria Jeruk Keprok, termasuk Jeruk Siam (SNI  01-3165-1992)

Kelas Bobot (g) Diameter (cm)
A ≥ 151 ≥ 71
B 101 – 150 61 -70
C 51 – 100 51 -60
D ≤ 50 40 – 50

4. Pelilinan

Beberapaa jenis buah secara alami dilapisi oleh lilin yang berfungsi sebagai pelindung terhadap serangan fisik, mekanik, dan mikrobiologis. Pelapisan lilin pada buah-buahan sebenarnya adalah menggantikan dan menambah lapisan lilin alami yang terdapat pada buah yang sebagian besar hilang selama penanganan karena lapisan lilin yang menutupi pori-pori buah dapat menekan respirasi dan transpirasi sehingga daya simpan buah lebih lama dan nilai jualnya lebih baik.  Manfaat lainnya adalah meningkatkan kilau dan menutupi luka atau goresan pada permukaan kulit buah sehingga penampilannya menjadi lebih baik. Pelilinan terhadap buah jeruk segar pertama kali dikenal sejak abad 12-13 oleh bangsa Cina, tetapi pada saat itu tanpa memperhatikan adanya efek-efek respirasi dan tranpirasi sehingga lapisan lilin yang terbentuk terlalu tebal, mengakibatkan respirasi anaerob (fermentasi) dan menghasilkan jeruk yang masam dan busuk. Oleh karena itu, pelilinan harus diupayakan agar pori-pori kulit buah tidak tertutupi sama sekali agar tidak terjadi kondisi anaerob di dalam buah.  Sebaliknya, jika lapisan lilin terlalu tipis hasilnya kurang efektif mengurangi laju respirasi dan transpirasi.  Dibandingkan dengan pendinginan. aplikasi lilin kurang efektif dalam menurunkan laju respirasi sehingga pelilinan banyak dilakukan untuk melengkapi penyipanan dalam suhu dingin.

Lilin yang digunakan dapat berasal dari berbagai sumber seperti tanaman, hewan, mineral maupun sintetis. Kebanyakan formula lilin dipersiapkan dengan satu atau lebih bahan seprti beeswax, parafin wax, carnauba wax (secara alami didapat dari carnauba palm) dan shellac (lilin dari insekta).         Syarat lilin yang digunakan : tidak mempengaruhi bau dan rasa buah, cepat kering, tidak lengket, tidak mudah pecah, mengkilap dan licin, tipis, tidak mengandung racun, harga murah dan mudah diperoleh. Syarat komoditi yang dilapisi adalah segar (baru dipanen) dan bersih, sehat (tidak terserang hama/penyakit), dan ketuaan cukup. Lilin yang banyak digunakan adalah lilin lebah yang diemulsikan dengan konsentrasi 4 – 12%. Air yang digunakan tidak boleh menggunakan air sadah karena garam-garam yang terkandung dalam air tersebut dapat merusak emulsi lilin.  Aplkasinya dapat dilakukan dengan, penyemprotan, pencelupan, atau pengolesan.

Untuk membuat emulsi lilin standar 12 % diperlukan lilin lebah 120 g, asam oleat 20 g, triethanol amin (TEA) 40 g dan air panas 820 cc. Lilin dipanaskan dalam panci sampai mencair, kemudian dimasukkan dalam blender. Selanjutnya dituang sedikit demi sedikit asam oleat, TEA dan air panas, larutan diblender 2-5 menit agar tercampur dengan sempurna kemudian emulsi lilin didinginkan. Emulsi lilin dapat digunakan setelah proses pendinginan selesai dilaksanakan.

Sebenarnya pelilinan buah-buahan itu tidak mengandung racun karena menggunakan lilin lebah dan konsentrasinya pelilinannya sedikit sekali. Yang paling dikuatirkan buah-buahan itu rawan kandungan pestisida kemudian terlapisi lilin sehingga pestisidanya masih menempel pada buah. Kandungan pestisida inilah yang sangat berbahaya bila sampai termakan, bisa menyebabkan banyak penyakit diantaranya kanker, leukimia, tumor, neoplasma indung telur dll.

5. Labeling dan Pengemasan

Pengemasan buah bertujuan melindungi buah dari luka, memudahkan pengelolaan (penyimpanann, pengangkutan, distribusi), mempertahankan mutu, mempermudah perlakuan khusus, dan memberikan estetika yang menarik konsumen.  Kemasan dan lebel jeruk perlu di desain sebaik mungkin baik warna dan dekorasinya karena kemasan yang bagus dapat menjadi daya daya tarik bagi konsumen.

Bila jeruk akan dikirim keluar kota, buah jeruk yang diangkut dengan peti akan lebih aman dari pada dengan keranjang bambu atau karung karena keranjang atau karung tidak dapat meredam goncangan selama penggangkutan.
Peti jeruk harus di paku kuat-kuat, bagian ujung dan tengah-tengahnya diikat tali kawat atau bahan pengikat kain yang kuat. Bahan peti dipilih yang ringan dan murah misalnya kayu senggon laut (albazia falcata) atau kayu pinus. Bentuk peti disesuaikan dengan bak angkutan, disarankan persegi panjang (60 x 30 x 30 cm) atau bujur sanggkar (30 x 30 x 30 cm), tebal papan 0,5 cm, lebar 8 cm, jarak antar 1,5 cm agar udara di dalam peti tidak lembab tetapi juga tidak terlalu panas. Bobot maksimal setiap peti sebaiknya tidak melebihi 30 kg.  Buah jeruk lebih baik jika dibungkus dengan kertas tissue (potongan/sobekan kertas) kemudian peti diberi tanda diantaranya yaitu nama barang, jumlah buah setiap peti, berat peti dan jeruk, kualitas, tanda merek dagang, daerah/negara asal.

6. Penyimpanan

Penyimpanan buah jeruk bertujuan : memperpanjang kegunaan, menampung hasil panen yang melimpah, menyediakan buah jeruk sepanjang tahun, membantu pengaturan pemasaran, meningkatkan keuntungan financial,  mempertahankan kualitas jeruk yang disimpan.  Prinsip dari perlakuan penyimpanan : mengendalikan laju respirasi dan transpirasi, mengendalikan atau mencegah penyakit dan perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki oleh konsumen.

Penyimpanan di ruang dingin dapat mengurangi aktivitas respirasi dan metabolisme, pelunakan, kehilangan air dan pelayuan, kerusakan karena aktivitas mikroba (bakteri, kapang/cendawan). Jeruk yang disimpan hendaknya bebas dari lecet kulit, memar, busuk dan kerusakan lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang baik, suhu ruang penyimpanan dijaga agar stabil. Suhu optimum untuk penyimpanan buah jeruk adalah 5 – 10oC. Jika suhu terlalu rendah dapat menyebabkan kerusakan buah (chiling injury).  Jika kelembaban rendah akan terjadi pelayuan atau pengkeriputan dan jika terlalu tinggi akan merangsang proses pembusukan, terutama apabila ada variasi suhu dalam ruangan. Kelembaban nisbi antara 85-90% diperlukan untuk menghindari pelayuan dan pelunakan pada beberapa jenis sayuran. Beberapa produk bahkan memerlukan kelembaban sekitar 90-95%. Kelembaban udara dalam ruangan pendinginan dapat dipertinggi antara lain dengan cara menyemprot lantai dengan air. Kelembaban yang tepat akan menjamin tingkat keamanan bahan yang disimpan terhadap pertumbuhan mikroba. Sirkulasi udara diperlukan secukupnya untuk membuang panas yang berasal dari hasil respirasi atau panas yang masuk dari luar.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

penanganan panen

PENANGANAN PANEN DAN PASCA PANEN BUAH JERUK

Oleh : Ir. Sutopo, MSi

(opotus09@yahoo.co.id – HP. 081 233 440 678)

PENDAHULUAN

Secara umum jeruk yang dihasilkan di dalam negeri mutunya terutama penampilan buah masih kalah bersaing dengan jeruk impor sehingga harga jualnya juga relatif lebih rendah. Masalah mendasar dari rendahnya mutu buah jeruk pasca panen adalah memar, lewat masak saat panen, perubahan komposisi, dan pembusukan.  Penyebab utamanya adalah kegiatan panen dan penangann pasca panennya belum memadai. Sebagai contoh, kebiasaan petani yang melakukan panen pada saat buah belum masak atau membiarkan buah melampaui masak optimal di pohon karena untuk mendapatkan harga tinggi atau karena sitem ijon.   Kondisi ini ini diperparah oleh minimnya penanganan paska panen yang dilakukan oleh petani maupun pedagang buah sehingga mutu buah (penampilan, kesehatan, kandungan gizi) sangat beragam dan cenderung kurang memuaskan konsumen.

Buah jeruk setelah dipetik masih melakukan proses fisiologis yaitu respirasi dan transpirasi yang menyebabkan perubahan kandungan zat-zat dalam buah. Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik (substrat) menjadi CO2, H2O dan energi.  Sedangkan transpirasi adalah proses kehilangan air melalui penguapan.  Substrat yang penting dalam respirasi meliputi karbohidrat,  beberapa jenis gula seperti glukosa, fruktosa, dan sukrosa; asam organik; dan protein.

Berdasarkan ketersediaan O2, respirasi dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu respirasi aerob dan respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2, sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa membutuhkan O2. Respirasi anaerob sering disebut juga dengan nama fermentasi. Respirasi aerob pada buah tropis digambarkan dengan reaksi berikut:

C6H12O6 + 6O2 → 6CO2 + 6H2O + 678kal

Berdasarkan pola respirasinya, buah dikelompokkan menjadi dua kelompok yaitu buah klimakterik dan non klimakterik.  Buah klimakterik adalah buah yang mengalami kenaikan produksi CO2 secara mendadak, kemudian menurun secara cepat.  Buah klimakterik mengalami peningkatan laju respirasi pada akhir fase kemasakan, sedang pada buah non klimakterik tidak terjadi peningkatan laju respirasi pada akhir fase pemasakan.  Buah jeruk termasuk non klimaterik, sebaiknya panen dilakukan sebelum akhir fase kemasakan buah agar daya simpannya lebih lama.  Adanya respirasi menyebabkan buah menjadi masak dan tua yang ditandai dengan proses perubahan fisik, kimia, dan biologi antara lain proses pematangan, perubahan warna, pembentukan aroma dan kemanisan, pengurangan keasaman, pelunakan daging buah dan pengurangan bobot. Laju respirasi dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui daya simpan sayur dan buah setelah panen. Semangkin tinggi laju respirasi, semakin pendek umur simpan.  Bila proses respirasi berlanjut terus, buah akan mengalami kelayuan dan akhirnya terjadi pembusukan yang sehingga zat gizi hilang.

Laju respirasi buah dan sayuran dipengaruhi oleh faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yang mempengaruhi respirasi adalah tinggkat kedewasaan, kandungan substrat, ukuran produk, jenis jaringan dan lapisan alamiah seperti lilin, ketebalan kulit dan sebagainya. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhi adalah suhu, konsentrasi gas CO2 dan O2 yang tersedia, zat-zat pengatur tumbuh, dan kerusakan yang ada pada buah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BUDIDAYA TANAMAN JERUK SEHAT

PENDAHULUAN

Jeruk merupakan salah satu komoditas buah unggulan nasional yang telah lama dikenal oleh masyarakat karena keberadaanya menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia yang ditanaman di pekarangan maupun di kebun atau sawah. Buah ini juga digemari oleh seluruh lapisan masyarakat yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun hasil olahan. Selain bermanfaat untuk membantu memenuhi gebutuhan gizi masarakat (vitamin dan mineral), komoditas ini telah berperan besar dalam memacu sistem dan usaha agribisnis yang dapat melayani, mendorong, menarik, dan menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di beberapa wilayah sentra produksi dan sekitarnya.
Nilai ekonomi tanaman jeruk termasuk tinggi dan dapat mengangkat tingkat kesejahteraan petaninya menjadi relatif lebih baik dibandingkan dengan petani komoditas buah yang lain maupun tanaman pangan. Panen jeruk yang umumnya dapat dimulai pada tahun ketiga atau keempat setelah tanam dapat memberikan keuntungan selama siklus hidupnya rata-rata lebih dari 30 juta rupiah/ha/tahun.
Selama periode enam tahun terakhir terjadi peningkatan produksi buah jeruk di Indonesia rata-rata lebih 20% per tahun. Produksi yang dicapai pada tahun 2004 sekitar 1.600.000 ton buah dengan nilai perdagangan sekitar 3,2 triliun merupakan hasil dari pertanaman yang telah berproduksi seluas 70.00 hektar atau setara dengan 70% dari seluruh luas jeruk yang telah tertanam. Capaian tersebut hanya dapat mengantarkan Indonesia pada peringkat ketiga belas dunia setelah Vietnam sebagai negara pengahasil utama buah jeruk sekaligus sebagai pengimpor (94.696 ton) terbesar kedua di Asean setelah Malaysia (Badan Litbang, 2005).
Walaupun volumenya belum seimbang dengan volume impor, buah jeruk pamelo (jeruk besar), lemon, dan grapefruit yang bermutu tinggi hasil dari penerapan teknologi pengelolaan kebun yang baik di Indonesia ternyata juga bisa diterima oleh pasar internasional dengan volume ekspor lebih dari 1.261 ton pada tahun 2003. Produksi buah jeruk yang bermutu baik selain untuk meningkatkan volume ekspornya diharapkan juga dapat mengurangi volume impor sehingga devisa negara dapat dihemat.
Peningkatan jumlah penduduk, pendapatan maupun kesadaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya akan mendorong permintaan pasar nasional terhadap buah-buahan, dan kebutuhan terhadap buah jeruk di dalam negeri pada tahun 2010 diprediksi 2.355.500 ton atau meningkat 1,5 kali dari produksi yang dicapai pada tahun 2004. Jika produktivitas tanaman antara 17 – 20 ton/ha berarti hingga tahun 2010 diperlukan penambahan luas panen sebesar 50.000 ha yang diharapkan akan terpenuhi dari sepuluh lokasi yaitu Kabupaten Karo-Sumatera Utara, Muara Enim-Sumatera Selatan, Garut-Jawa Barat, Magelang-Jawa Tengah, Jember dan Magetan-Jawa Timur, Barito Kuala-Kalimantan Selatan, Pasir-Kalimantan Timur, Luwu Utara-Sulawesi Selatan, Mamuju Utara-Sulawesi Barat, dan Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.
Walaupun di masa mendatang akan terjadi perubahan radikal dalam struktur pasar yang mengakibatkan persaingan pasar semakin ketat, agribisnis dan pengembangan usahatani jeruk tetap memberikan prospek menggembirakan asalkan pengelolaanya dilakukan secara tepat, terfokus, terpadu dan berkelanjutan.

Masalah Usahatani Jeruk
Sebagian besar (60%) jenis jeruk yang ditanam di Indonesia adalah jeruk Siam, dan sisanya adalah kelompok jeruk keprok, jeruk manis dan pamelo (jeruk besar). Usahatani jeruk umumnya dilakukan oleh petani baik yang pengembangannya difasilitasi oleh pemerintah maupun swadaya, dan akhir-akhir ini pengusaha swasta mulai banyak yang tertatarik mengusahakan karena usahatani jeruk dapat memberikan keuntungan yang tinggi.
Secara umum produksi buah jeruk di tingkat petani masih dilakukan secara tradisional dan belum/tidak menerapkan manajemen produksi mutu sehingga mutu buah rendah seperti kulit buah burik, kotor, tidak mulus, warna buah tidak menarik/pucat, rasa buah beragam, dan sebagainya). Kondisi ini mengakibat harga buah jeruk Indonesia dihargai lebih murah dari jeruk impor, dan daya saingnya di pasar internasional semakin melemah.
Selain itu, penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) yang disebabkan oleh bakteri Liberobacter asiaticus hingga saat belum diketemukan obatnya jika tanaman terserang sehingga penyakit tersebut masih menghantui setiap usaha pengembangan jeruk di Indonesia. Guna mendukung pengembangan jeruk di Indonesia khususnya untuk menanggulangi CVPD, Lolit jeruk telah memformulasikan strategi pengendaliaanya yang disebut dengan PTKJS (Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat). PTKS terdiri atas 5 komponen teknologi, yaitu 1) Penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, 2) Pengendalian vektor CVPD secara cermat, 3) Sanitasi kebun yang baik, 4) Pemeliharaan secara optimal, dan 5) Konsolidasi pengelolaan kebun secara menyeluruh di target wilayah pengembangan.

Teknologi Budidaya yang Baik
Era globalisasi dan pasar bebas akan menciptakan kondisi persaingan pasar yang semakin ketat. Oleh karena itu jika pengembangan jeruk yang telah dan akan dilakukan tidak diikuti dengan penerapan teknologi budidaya yang baik, usaha tersebut akan menjadi sia-sia karena buah yang dihasilkan tidak mampu bersaing dengan produksi negara lain yang pada saat ini keberadaanya telah bisa ditemukan di pasar tradisional.
Upaya merebut pasar baik dalam negeri maupun pasar internasional perlu dimulai dari sekarang salah satunya dengan menggiatkan pelatihan dan pembimbingan penerapan teknik budidaya yang baik secara menyeluruh dan berkesinambungan. Secara umum, teknik budidaya jeruk yang baik terdiri atas 4 tahapan kegiatan yaitu pemilihan lokasi, pemilihan bibit, penanaman dan pemeliharaan kebun, dan penanganan panen sampai dengan pasca panen.

1. Pemilihan lokasi
Penanaman di lokasi yang sesuai merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan budidaya jeruk. Agar resiko kegagalan dapat dihindari/diperkecil dan efisiensi pengelolaan kebun tercapai, maka rehabilitasi dan pengembangan jeruk harus diarahkan di lahan-lahan yang memiliki agroklimat sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman seperti tinggi tempat, iklim dan tanah.
a. Tinggi tempat
Ketinggian tempat dapat mencerminkan suhu suatu daerah. Pada dasarnya jeruk dapat ditanam mulai dataran rendah sampai dataran tinggi, tergantung pada varietasnya. Sebagian besar jenis jeruk Siam dan pamelo lebih cocok ditanam di dataran rendah; sedangkan jenis jeruk keprok (keprok Batu 55, keprok Tawangmangu, keprok Pulung, keprok Garut, keprok Kacang, dll), dan jenis jeruk manis (Punten, Groveri dan WNO, dll) lebih cocok ditanam di dataran tinggi.

b. Iklim
Tanaman jeruk dapat tumbuh pada daerah yang mempunyai suhu antara 13-35°C (optimum 22-23°C), curah hujan antara 1.000-3.000 mm/th (optimum 1.500-2.500 mm/th) dengan bulan kering (< 60 mm) antara 2-6 bulan berturut-turut (optimum 3-4 bulan). Perhitungan lamanya bulan kering sangat penting, karena untuk merangsang pembungaan minimum dibutuhkan bulan kering 2 bulan berturut-turut.
c. Tanah
Kesuburan fisik dan kimia tanah merupakan syarat penting dalam pemilihan lokasi tanam. Tanaman jeruk membutuhkan pH tanah 5-8 (optimum ± 6), solum (lapisan tanah) cukup dalam (optimum <100 cm) kecuali bibit dari cangkokan/stek, tidak berpadas/berlapisan kedap, tekstur berpasir, lempung berpasir, lempung dan lempung berliat (optimum berpasir atau lempung berpasir). Tanah-tanah dangkal yang liatnya tinggi dengan draenasi dan aerasi jelek harus dihindari, karena dapat menghambat perkembangan akar, defisiensi unsur dan mengakibatkan penyakit busuk akar (Phytophtora), sehingga tanaman tidak dapat bertahan lama.

2. Pemilihan Bibit
Pemilihan varietas sebaiknya mempertimbangkan aspek agroklimat, pasar dan teknis di lapanga. Saat ini kelompok jeruk keprok mempunyai pasar dalam negeri cukup besar, tetapi keuntungan yang diperoleh dari usahatani jeruk besar relatif sama dibandingkan dengan jeruk manis dan pamelo. Sedangkan dari aspek teknis, pengelolaan jeruk manis dan pamelo relatif lebih mudah, dan tanaman pamelo relatif kurang disukai serangga Diaphorina citri sehingga jarang dijumpai masalah yang berkaitan dengan penyakit CVPD.
Bibit jeruk yang akan ditanam harus bermutu baik dan krterianya sebagai berikut :
• Merupakan hasil okulasi antara varietas batang atas yang sesuai dengan label pada batang bawah JC.
• berlabel bebas penyakit (CVPD, Tristeza, Exocortis, Xyloporosi, Psorosis, Vein Enation, dan Tatter leaf)
• ditanam dalam polibag
• pertumbuhannya baik, tidak menunjukkan serangan hama penyakit dan defisien hara
• tinggi tanaman sekitar 75 – 100 cm
• pada saat polibag dibuka, perakarannya normal
• dihasilkan oleh penangkar yang terpercaya

3. Penanaman dan Pemeliharaan Kebun
a. Pembuatan lubang tanam
Sebelum tanam, lahan harus dibebaskan dari pohon-pohon besar yang diperkirakan dapat menaungi tanaman jeruk dan dibebaskan dari batu-batu besar. Selanjutnya dilakukan pengolahan tanah dan dibuat lubang tanam agar pertumbuhan dan produktivitas tanaman lebih baik dan berumur lebih panjang. Lubang tanam disarankan memiliki ukuran panjang dan lebar masing-masing 60 cm dengan kedalaman minimal 60 cm, jarak antar lubang tanam 5 x 4 m (kelompok jeruk keprok), 5 x 6 m (kelompok jeruk manis), dan 6 x 7 m (kelompok pamelo). Tanah galian dicampur dengan pupuk kandang 1 blek (20 lt), jika pH tanah pH 5 Berdasarkan jumlah produksi 2 kali setahun – 5

a. Pemupukan berdasarkan produksi buah
Takaran pupuk pada tanaman dewasa lebih mudah ditentukan berdasarkan produksi buah. Dari hasil perhitungan data-data penelitian, rata-rata jumlah unsur makro utama yang hilang di kebun yang disebabkan oleh pencucian tanah, hilang karena buah yang dipanen, hilang untuk pertumbuhan vegetatif dan lain-lain diperhitungkan kurang lebih setara dengan 2 – 3% (N : P2O5 : K2O = 2 : 1 : 2) dari berat produksi buah. Hal ini berarti setiap panen 100 kg buah, takaran pupuk yang harus diberikan kurang lebih sebanyak 2 – 3 kg (N : P2O5 : K2O = 2 : 1 : 2).
Pemupukan dapat dilakukan melalui tanah dan melalui daun. Cara pemupukan melalui tanah yang dianjurkan yaitu dengan penebaran di dalam lubang melingkar atau penugalan di bawah tajuk kemudian ditutup kembali. Penugalan merupakan cara paling tepat untuk pupuk fosfor karena unsur ini sangat mudah bersenyawa dengan aluminium dan besi, sehingga jika disebar akan bersenyawa dan ketersediaan untuk tanaman menjadi terhambat. Kondisi tanah saat pemupukan tidak boleh terlalu kering atau saat air mengalir, jika kekurangan air dapat mengakibatkan akar terbakar dan jika ada air mengalir (misalnya hujan lebat) pupuk yang diberikan akan banyak hilang terangkut air.
Bila pemberian pupuk dilakukan melalui daun, tidak boleh diberikan pada saat bunga mekar, karena dapat mengakibatkan rontok bunga. Demikian juga takaran dan konsentrasinya juga harus tepat, karena kelebihan pupuk daun mengakibatkan daun terbakar atau menyebabkan keracunan. Munculnya gejala kekurangan unsur pada suatu kebun lebih cepat disembuhkan dengan cara pemberian pupuk melalui daun.

Tabel 2. Komposisi hara N, P, K pada beberapa jenis buah jeruk
Jenis
Tanaman Komposisi hara pada buah
N P K
Siam
Keprok
Pamelo 10
8
5 3
1
1 2
10
10

Contoh perhitungan pupuk :
produksi buah jeruk Siam 100 kg/pohon
rekomendasi = 2% (10 N : 3 P : 2 K) dari bobot panen
Urea (45% N), SP36 (36% P2O5), KCl (60% K2O)
Takaran pupuk :
Urea/ph : 100 kg x (0,02 x 10/15) x 100/45 = 2,96 kg = 3 kg
SP36/ph : 100 kg x (0,02 x 3/15) x 2,25 (BM P2O5/2P) X 100/36 = 2,5 kg
KCl/ph : 100 kg x (0,02 x 10/16) x 1,01 (BM K2 O /2K) X 100/60 = 0,45 kg = 0,5

c. Pemangkasan Cabang
Pemangkasan merupakan kegiatan yang sering diabaikan oleh petani meskipun dapat bermanfaat menjaga kesehatan tanaman, menghambat perkembangan hama penyakit, memudahkan pengelolaan kebun, menghasilkan buah bermutu, mempertahankan produktivitas tanaman, memperpanjang umur tanaman, dan lain sebagainya.
Pemangkasan pada tanaman jeruk meliputi pemangkasan dasar dan pemeliharaan. Pemangkasan dasar adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanam pada saat tinggi tanaman telah melebihi 75 cm dengan tujuan mendapatkan kerangka dasar percabangan dan bentuk pohon yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan produksi yang optimal. Tahapannya yaitu pemotongan batang utama, pemeliharaan tunas, kemudian pemilihan dan pemeliharaan cabang utama (Gambar 1-4).

Pemangkasan pemeliharaan adalah pemangkasan yang dilakukan pada kondisi tertentu terutama setelah panen besar dengan tujuan utam mengatur produksi dan menjaga kesehatan tanaman. Bagian-bagian yang harus dipangkas yaitu tunas liar yang tumbuhnya tegak lurus ke atas dan ke dalam, cabang atau ranting yang sakit, tangkai bekas pendukung buah, cabang/ranting yang terlalu rimbun dan cabang/ranting yang tajuknya bertumpang tindih antara satu pohon dengan pohon lain. Kegiatan ini
Pemangkasan pemeliharaan yang dilakukan pada saat produksi tinggi tidak boleh terlalu banyak karena pada kondisi ini karbohidrat (nutrisi) banyak yang hilang terangkut melalui panen. Apabila dilakukan pemangkasan berat, karbohidrat (cadangan makanan) yang dikumpulkan lebih banyak digunakan untuk membentuk bagian vegetatif (tunas-tunas baru), sehingga produksi bunga menurun. Oleh karena itu pemangkasan berat hanya dilakukan pada kondisi tertentu, misalnya kondisi pohon terlalu rimbun dan produksi buah rendah atau untuk tujuan peremajaan dan pembentukan profil pohon.
d. Penjarangan Buah
Penjarangan dilakukan pada pohon yang mempunyai buah lebat dengan tujuan menghasilkan buah yang penampilannya baik, seragam, dan mengurangi resiko kerusakan/kematian tanaman. Penjarangan dilakukan pada saat ukuran buah sebesar kelereng dan jika produksi masih terlalu tinggi penjarangan berikutnya dilakukan sekitar umur 4 bulan dari saat pembungaan. Buah yang dipetik terutama yang letaknya bergerombol atau jumlahnya lebih dari dua buah/tangkai, ukurannya paling kecil, cacat, dan penampilannya jelek (burik).
e. Penanganan Panen – Pasca Panen
Panen buah dilakukan pada saat umur buah telah mencapai kematangan optimal dengan salah satu kriteria nilai brik sari buah telah mencapai 10%. Tujuannya adalah memperoleh buah jeruk dengan mutu baik sesuai dengan permintaan konsumen, memiliki tingkat kerusakan yang rendah dan tidak mudah rusak pada saat ditransportasi/didistribusikan. Sebelum panen disiapkan alat dan bahan yang meliputi gunting pangkas, keranjang buah, tangga segitiga, refraktometer, timbangan; dan paling sedikit dua minggu sebelum panen aplikasi pestisida dihentikan. Cara panen dilakukan cuaca cerah dengan memangkas tangkai buah dengan menyisakan satu helai daun, lalu dipotong sedekat mungkin dengan buah. Buah-buah tersebut dimasukkan kedalam keranjang kemudian diangkut ke bangunan/gudang dan dicatat jumlah dan asal lokasi panen.
Kegiatan yang dilakukan pasca panen meliputi pembersihan kulit, pelapisan lilin, sortasi buah, pelabelan dan pengemasan berdasarkan ukuran dan standar mutu yang ditetapkan dengan tujuan mendapatkan buah dengan standar mutu seragam pada satu kemasan yang sama.

Mengenal Defisiensi Hara pada Tanaman Jeruk
Masalah defisiensi unsur hara pada tanaman jeruk umumnya masih kurang dipahami. Jika terjadi kelainan pada daun, tanaman dibongkar karena dianggap terserang penyakit CVPD yang hingga kini belum dapat diatasi secara memuaskan. Padahal tidak sedikit gejala yang muncul justru disebabkan oleh masalah nutrisi. Prinsipnya, defisiensi unsur hara biasanya muncul pada seluruh tanaman dalam suatu kebun dan gejalanjya membentuk pola tertentu, dan hal sebaliknya jika disebabkan oleh serangan hama atau penyakit.
Unsur hara makro di dalam tanaman sifatnya relatif mudah bergerak (mobil) sehingga jika terjadi kekurangan, maka unsur tersebut akan dipindahkan dari jaringan tua ke jaringan muda dan gejala defisiensi akan muncul pada daun tua. Kondisi tersebut berlawanan dengan unsur hara mikro. Berikut ilustrasi tentang beberapa masalah nutrisi yang sering terjadi di lapang.
Nitrigen (N). Unsur ini berperan penting untuk pertumbuhan vegetatif sehingga sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan tanaman muda. Ketersediaannya dalam tanah mencapai optimum pada pH antara 6 sampai dengan 8. Kekurangan N sering terjadi pada tanah-tanah berpasir yang sering mengalami pencucian. Gejalanya kekurangan: dimulai dari daun tua berwarna kuning, lalu daun muda berwarna pucat, dan tanaman tumbuh kerdil.
Fosfor (P). Unsur ini berperan penting untuk pertumbuhan tanaman, merangsang akar, pembentukan bunga dan buah. Ketersediaannya dalam tanah mencapai optimum pada pH sekitar 6. Kekurangan P sering terjadi pada tanah-tanah berkapur atau jika diberi pupuk N berlebihan. Tanaman yang kekurangan unsur P biasanya tidak menunjukkan gejala khas di daun seperti unsur lain, tetapi perkembangan akar, pertumbuhan tanaman, pembungaan dan pemasakan buah menjadi terhambat, kualitas buah rendah (kulit kasar, pusat juring berlubang, sari buah rendah/ngapas) dan rasa buah kurang manis.
Kalium (K). Unsur ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dewasa untuk memperkokoh tanaman, menjaga agar bunga dan buah tidak rontok, meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama penyakit dan kekurangan air. Jika pH tanah dibawah 6, ketersediaannya mulai menurun. Gejala kekurangan : dimulai dari daun tua, kadang tampak seperti terbakar, warna daun kuning mulai dari bagian pucuk dan pinggir daun atau membentuk pola mirip huruf “V”.
Kalsium (Ca). Unsur ini merupakan komponen terbesar yang menyususn bagian vegetatif, berperan penting untuk membentuk dinding sel dan aktivator enzim. Kekurangan Ca sering terjadi pada tanah-tanah berpasir dan tanah-tanah masam. Unsur ini bersifat antagonis dengan K. Perkembangan akar pada tanaman jeruk yang kekurangan Ca akan terhambat.
Mganesium (Mg). Unsur ini mempunyai peran penting untuk menyusun zat hijau daun (klorofil). Ketersediaanya mencapai optimum pada pH tanah 7 keatas, dan gejala kekurangan seing terjadi pada tanah-tanah masam. Gejala kekurangan : muncul pada daun dewasa, pada tahap awal muncul bercak kuning, selanjutnya secara bertahap melebar memmbetuk huruf “V terbalik”.
Belerang (S). Unsur ini penting untuk menyusun protein dalam tanaman. Kekurangan S sering terjadi pada tanah ber-pH tinggi, dan gejala yang ditimbulkan pada daun mirip dengan gejala kekurangan nitrogen.
Besi (Fe). Sama hal dengan unsur mikro lainnya kecuali molibdenum (Mo), ketersediaan Fe pada pH rendah cenderung meningkat. Kekurangan Fe sering terjadi pada tanah berpasir yang sering mengalami pencucian, tanah berkapur (pH tinggi), tanah-tanah tergenang, atau kelebihan ion antagonis (Ca, Cu, Mg, Mn, Mo, P dan Zn). Gejala kekurangan sering muncul pada awal musim penghujan : daun muda berwarna kuning terang, tulang dan urat daun berwarna hujau pucat, tetapi bentuk dan ukuran daun mendekati normal.
Seng (Zn). Kekurangan Zn sering muncul pada tanah berpasir yang sering mengalami pencucian, tanah berkapur, tanah organik, dan akibat tanah kelebihan ion antagonis N, P, Ca, Cu, Mg dan Na. Gejala kekurangan : daun muda muncul bercak kuning, lalu ukuran daun lebih sempit dan memanjang, jarak antar ruas daun lebih pendek, daun lebih kaku dan berdiri tegak. Tahap lanjut, daun, bunga dan buah akan rontok, rantingnya mengering atau mati pucuk. Buah berukuran kecil dan bentuknya tidak normal.
Mangan (Mn). Kekurangan Mn sering terjadi pada pH tanah tinggi mapun rendah yang sering mengalami pencucian, dan biasanya terjadi bersamaan dengan kekurangan Fe dan Zn sehingga gejala awal sulit dibedakan. Gejala kekurangan : daerah sepanjang tulang daun muda berwarna hijau tua, sedangkan daerah diantara tulang daun berwarna pucat terang. Gejalanya nampak lebih jelas pada daun muda yang terkena sinar matahari, setelah tua warna daun bisa normal kembali.
Tembaga (Cu). Kekurangan Cu sering terjadi pada jeruk manis, pada pH tanah tinggi atau jika ion antagonis seperti N, P, Mg, Fe dan Mo berlebihan. Gejala awal defisiensi ditandai dengan warna daun hijau gelap, mengesankan kelebihan N. Gejala tingkat menengah : batang atau ranting mengeluarkan getah coklat, berkerak, daun rontok dan mati pucuk. Gejala akhir : di dalam buah muncul kantong getah, retakan-retakan kecil hingga melintang pada kulit buah, lalu buah rontok. Pada jeruk nipis, kadar air buah rendah, kadang bentuk buah tidak normal, ranting selalu kecil, berwarna coklat, lalu mati pucuk.
Molibdenum (Mo). Unsur ini kurang tersedia pada tanah masam, dan kebutuhan tanamanan jeruk terhadap Mo lebih sedikit dibandingkan dengan unsur mikro lainnya. Jika ketersedian ion antagonis seperti K, Cu, Mn berlebihan maka akan memnghambat serapan Mo. Gejalanya kekurangan: muncul trotol-trotol (spot) bulat seperti terbakar, lalu berwarna kuning terang. Pada musim hujan daun tersebut menjadi gugur, sedangkan saat kemarau kembali normal atau hijau kekuning-kuningan.
Bororn (B). Gejala kekurangan sering muncul pada musim kemarau panjang, utamanya pada tanah berkapur. Ketersediaan ion antagonis seperti N, K dan Ca yang berlebihan akan menghambat serapan B. Gejala kekurangan : daun muda nampak lemas seperti layu, kemudian mengkerut atau keriting. Bentuk buah tidak normal, dari bagian dalam kulit atau segmen mengeluarkan getah.
Kuning Tulang Daun. Kuning daun merupakan gejala fisiologis paling banyak ditemukan pada tanah dangkal, tanah berat, draenasi tanah jelek. Gejala awal ditandai dengan munculnya warna kuning pucat pada seluruh tulang dan urat daun, lalu seluruh helaian dan menguning, ukuran daun kadang mengecil dan kaku, bungan dan buah rontok, lalu tanaman merana dan

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment