BUDIDAYA TANAMAN JERUK SEHAT

PENDAHULUAN

Jeruk merupakan salah satu komoditas buah unggulan nasional yang telah lama dikenal oleh masyarakat karena keberadaanya menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia yang ditanaman di pekarangan maupun di kebun atau sawah. Buah ini juga digemari oleh seluruh lapisan masyarakat yang biasanya dikonsumsi dalam bentuk buah segar maupun hasil olahan. Selain bermanfaat untuk membantu memenuhi gebutuhan gizi masarakat (vitamin dan mineral), komoditas ini telah berperan besar dalam memacu sistem dan usaha agribisnis yang dapat melayani, mendorong, menarik, dan menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di beberapa wilayah sentra produksi dan sekitarnya.
Nilai ekonomi tanaman jeruk termasuk tinggi dan dapat mengangkat tingkat kesejahteraan petaninya menjadi relatif lebih baik dibandingkan dengan petani komoditas buah yang lain maupun tanaman pangan. Panen jeruk yang umumnya dapat dimulai pada tahun ketiga atau keempat setelah tanam dapat memberikan keuntungan selama siklus hidupnya rata-rata lebih dari 30 juta rupiah/ha/tahun.
Selama periode enam tahun terakhir terjadi peningkatan produksi buah jeruk di Indonesia rata-rata lebih 20% per tahun. Produksi yang dicapai pada tahun 2004 sekitar 1.600.000 ton buah dengan nilai perdagangan sekitar 3,2 triliun merupakan hasil dari pertanaman yang telah berproduksi seluas 70.00 hektar atau setara dengan 70% dari seluruh luas jeruk yang telah tertanam. Capaian tersebut hanya dapat mengantarkan Indonesia pada peringkat ketiga belas dunia setelah Vietnam sebagai negara pengahasil utama buah jeruk sekaligus sebagai pengimpor (94.696 ton) terbesar kedua di Asean setelah Malaysia (Badan Litbang, 2005).
Walaupun volumenya belum seimbang dengan volume impor, buah jeruk pamelo (jeruk besar), lemon, dan grapefruit yang bermutu tinggi hasil dari penerapan teknologi pengelolaan kebun yang baik di Indonesia ternyata juga bisa diterima oleh pasar internasional dengan volume ekspor lebih dari 1.261 ton pada tahun 2003. Produksi buah jeruk yang bermutu baik selain untuk meningkatkan volume ekspornya diharapkan juga dapat mengurangi volume impor sehingga devisa negara dapat dihemat.
Peningkatan jumlah penduduk, pendapatan maupun kesadaran masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya akan mendorong permintaan pasar nasional terhadap buah-buahan, dan kebutuhan terhadap buah jeruk di dalam negeri pada tahun 2010 diprediksi 2.355.500 ton atau meningkat 1,5 kali dari produksi yang dicapai pada tahun 2004. Jika produktivitas tanaman antara 17 – 20 ton/ha berarti hingga tahun 2010 diperlukan penambahan luas panen sebesar 50.000 ha yang diharapkan akan terpenuhi dari sepuluh lokasi yaitu Kabupaten Karo-Sumatera Utara, Muara Enim-Sumatera Selatan, Garut-Jawa Barat, Magelang-Jawa Tengah, Jember dan Magetan-Jawa Timur, Barito Kuala-Kalimantan Selatan, Pasir-Kalimantan Timur, Luwu Utara-Sulawesi Selatan, Mamuju Utara-Sulawesi Barat, dan Timor Tengah Selatan-Nusa Tenggara Timur.
Walaupun di masa mendatang akan terjadi perubahan radikal dalam struktur pasar yang mengakibatkan persaingan pasar semakin ketat, agribisnis dan pengembangan usahatani jeruk tetap memberikan prospek menggembirakan asalkan pengelolaanya dilakukan secara tepat, terfokus, terpadu dan berkelanjutan.

Masalah Usahatani Jeruk
Sebagian besar (60%) jenis jeruk yang ditanam di Indonesia adalah jeruk Siam, dan sisanya adalah kelompok jeruk keprok, jeruk manis dan pamelo (jeruk besar). Usahatani jeruk umumnya dilakukan oleh petani baik yang pengembangannya difasilitasi oleh pemerintah maupun swadaya, dan akhir-akhir ini pengusaha swasta mulai banyak yang tertatarik mengusahakan karena usahatani jeruk dapat memberikan keuntungan yang tinggi.
Secara umum produksi buah jeruk di tingkat petani masih dilakukan secara tradisional dan belum/tidak menerapkan manajemen produksi mutu sehingga mutu buah rendah seperti kulit buah burik, kotor, tidak mulus, warna buah tidak menarik/pucat, rasa buah beragam, dan sebagainya). Kondisi ini mengakibat harga buah jeruk Indonesia dihargai lebih murah dari jeruk impor, dan daya saingnya di pasar internasional semakin melemah.
Selain itu, penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) yang disebabkan oleh bakteri Liberobacter asiaticus hingga saat belum diketemukan obatnya jika tanaman terserang sehingga penyakit tersebut masih menghantui setiap usaha pengembangan jeruk di Indonesia. Guna mendukung pengembangan jeruk di Indonesia khususnya untuk menanggulangi CVPD, Lolit jeruk telah memformulasikan strategi pengendaliaanya yang disebut dengan PTKJS (Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat). PTKS terdiri atas 5 komponen teknologi, yaitu 1) Penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, 2) Pengendalian vektor CVPD secara cermat, 3) Sanitasi kebun yang baik, 4) Pemeliharaan secara optimal, dan 5) Konsolidasi pengelolaan kebun secara menyeluruh di target wilayah pengembangan.

Teknologi Budidaya yang Baik
Era globalisasi dan pasar bebas akan menciptakan kondisi persaingan pasar yang semakin ketat. Oleh karena itu jika pengembangan jeruk yang telah dan akan dilakukan tidak diikuti dengan penerapan teknologi budidaya yang baik, usaha tersebut akan menjadi sia-sia karena buah yang dihasilkan tidak mampu bersaing dengan produksi negara lain yang pada saat ini keberadaanya telah bisa ditemukan di pasar tradisional.
Upaya merebut pasar baik dalam negeri maupun pasar internasional perlu dimulai dari sekarang salah satunya dengan menggiatkan pelatihan dan pembimbingan penerapan teknik budidaya yang baik secara menyeluruh dan berkesinambungan. Secara umum, teknik budidaya jeruk yang baik terdiri atas 4 tahapan kegiatan yaitu pemilihan lokasi, pemilihan bibit, penanaman dan pemeliharaan kebun, dan penanganan panen sampai dengan pasca panen.

1. Pemilihan lokasi
Penanaman di lokasi yang sesuai merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan budidaya jeruk. Agar resiko kegagalan dapat dihindari/diperkecil dan efisiensi pengelolaan kebun tercapai, maka rehabilitasi dan pengembangan jeruk harus diarahkan di lahan-lahan yang memiliki agroklimat sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman seperti tinggi tempat, iklim dan tanah.
a. Tinggi tempat
Ketinggian tempat dapat mencerminkan suhu suatu daerah. Pada dasarnya jeruk dapat ditanam mulai dataran rendah sampai dataran tinggi, tergantung pada varietasnya. Sebagian besar jenis jeruk Siam dan pamelo lebih cocok ditanam di dataran rendah; sedangkan jenis jeruk keprok (keprok Batu 55, keprok Tawangmangu, keprok Pulung, keprok Garut, keprok Kacang, dll), dan jenis jeruk manis (Punten, Groveri dan WNO, dll) lebih cocok ditanam di dataran tinggi.

b. Iklim
Tanaman jeruk dapat tumbuh pada daerah yang mempunyai suhu antara 13-35°C (optimum 22-23°C), curah hujan antara 1.000-3.000 mm/th (optimum 1.500-2.500 mm/th) dengan bulan kering (< 60 mm) antara 2-6 bulan berturut-turut (optimum 3-4 bulan). Perhitungan lamanya bulan kering sangat penting, karena untuk merangsang pembungaan minimum dibutuhkan bulan kering 2 bulan berturut-turut.
c. Tanah
Kesuburan fisik dan kimia tanah merupakan syarat penting dalam pemilihan lokasi tanam. Tanaman jeruk membutuhkan pH tanah 5-8 (optimum ± 6), solum (lapisan tanah) cukup dalam (optimum <100 cm) kecuali bibit dari cangkokan/stek, tidak berpadas/berlapisan kedap, tekstur berpasir, lempung berpasir, lempung dan lempung berliat (optimum berpasir atau lempung berpasir). Tanah-tanah dangkal yang liatnya tinggi dengan draenasi dan aerasi jelek harus dihindari, karena dapat menghambat perkembangan akar, defisiensi unsur dan mengakibatkan penyakit busuk akar (Phytophtora), sehingga tanaman tidak dapat bertahan lama.

2. Pemilihan Bibit
Pemilihan varietas sebaiknya mempertimbangkan aspek agroklimat, pasar dan teknis di lapanga. Saat ini kelompok jeruk keprok mempunyai pasar dalam negeri cukup besar, tetapi keuntungan yang diperoleh dari usahatani jeruk besar relatif sama dibandingkan dengan jeruk manis dan pamelo. Sedangkan dari aspek teknis, pengelolaan jeruk manis dan pamelo relatif lebih mudah, dan tanaman pamelo relatif kurang disukai serangga Diaphorina citri sehingga jarang dijumpai masalah yang berkaitan dengan penyakit CVPD.
Bibit jeruk yang akan ditanam harus bermutu baik dan krterianya sebagai berikut :
• Merupakan hasil okulasi antara varietas batang atas yang sesuai dengan label pada batang bawah JC.
• berlabel bebas penyakit (CVPD, Tristeza, Exocortis, Xyloporosi, Psorosis, Vein Enation, dan Tatter leaf)
• ditanam dalam polibag
• pertumbuhannya baik, tidak menunjukkan serangan hama penyakit dan defisien hara
• tinggi tanaman sekitar 75 – 100 cm
• pada saat polibag dibuka, perakarannya normal
• dihasilkan oleh penangkar yang terpercaya

3. Penanaman dan Pemeliharaan Kebun
a. Pembuatan lubang tanam
Sebelum tanam, lahan harus dibebaskan dari pohon-pohon besar yang diperkirakan dapat menaungi tanaman jeruk dan dibebaskan dari batu-batu besar. Selanjutnya dilakukan pengolahan tanah dan dibuat lubang tanam agar pertumbuhan dan produktivitas tanaman lebih baik dan berumur lebih panjang. Lubang tanam disarankan memiliki ukuran panjang dan lebar masing-masing 60 cm dengan kedalaman minimal 60 cm, jarak antar lubang tanam 5 x 4 m (kelompok jeruk keprok), 5 x 6 m (kelompok jeruk manis), dan 6 x 7 m (kelompok pamelo). Tanah galian dicampur dengan pupuk kandang 1 blek (20 lt), jika pH tanah pH 5 Berdasarkan jumlah produksi 2 kali setahun – 5

a. Pemupukan berdasarkan produksi buah
Takaran pupuk pada tanaman dewasa lebih mudah ditentukan berdasarkan produksi buah. Dari hasil perhitungan data-data penelitian, rata-rata jumlah unsur makro utama yang hilang di kebun yang disebabkan oleh pencucian tanah, hilang karena buah yang dipanen, hilang untuk pertumbuhan vegetatif dan lain-lain diperhitungkan kurang lebih setara dengan 2 – 3% (N : P2O5 : K2O = 2 : 1 : 2) dari berat produksi buah. Hal ini berarti setiap panen 100 kg buah, takaran pupuk yang harus diberikan kurang lebih sebanyak 2 – 3 kg (N : P2O5 : K2O = 2 : 1 : 2).
Pemupukan dapat dilakukan melalui tanah dan melalui daun. Cara pemupukan melalui tanah yang dianjurkan yaitu dengan penebaran di dalam lubang melingkar atau penugalan di bawah tajuk kemudian ditutup kembali. Penugalan merupakan cara paling tepat untuk pupuk fosfor karena unsur ini sangat mudah bersenyawa dengan aluminium dan besi, sehingga jika disebar akan bersenyawa dan ketersediaan untuk tanaman menjadi terhambat. Kondisi tanah saat pemupukan tidak boleh terlalu kering atau saat air mengalir, jika kekurangan air dapat mengakibatkan akar terbakar dan jika ada air mengalir (misalnya hujan lebat) pupuk yang diberikan akan banyak hilang terangkut air.
Bila pemberian pupuk dilakukan melalui daun, tidak boleh diberikan pada saat bunga mekar, karena dapat mengakibatkan rontok bunga. Demikian juga takaran dan konsentrasinya juga harus tepat, karena kelebihan pupuk daun mengakibatkan daun terbakar atau menyebabkan keracunan. Munculnya gejala kekurangan unsur pada suatu kebun lebih cepat disembuhkan dengan cara pemberian pupuk melalui daun.

Tabel 2. Komposisi hara N, P, K pada beberapa jenis buah jeruk
Jenis
Tanaman Komposisi hara pada buah
N P K
Siam
Keprok
Pamelo 10
8
5 3
1
1 2
10
10

Contoh perhitungan pupuk :
produksi buah jeruk Siam 100 kg/pohon
rekomendasi = 2% (10 N : 3 P : 2 K) dari bobot panen
Urea (45% N), SP36 (36% P2O5), KCl (60% K2O)
Takaran pupuk :
Urea/ph : 100 kg x (0,02 x 10/15) x 100/45 = 2,96 kg = 3 kg
SP36/ph : 100 kg x (0,02 x 3/15) x 2,25 (BM P2O5/2P) X 100/36 = 2,5 kg
KCl/ph : 100 kg x (0,02 x 10/16) x 1,01 (BM K2 O /2K) X 100/60 = 0,45 kg = 0,5

c. Pemangkasan Cabang
Pemangkasan merupakan kegiatan yang sering diabaikan oleh petani meskipun dapat bermanfaat menjaga kesehatan tanaman, menghambat perkembangan hama penyakit, memudahkan pengelolaan kebun, menghasilkan buah bermutu, mempertahankan produktivitas tanaman, memperpanjang umur tanaman, dan lain sebagainya.
Pemangkasan pada tanaman jeruk meliputi pemangkasan dasar dan pemeliharaan. Pemangkasan dasar adalah pemangkasan yang dilakukan setelah tanam pada saat tinggi tanaman telah melebihi 75 cm dengan tujuan mendapatkan kerangka dasar percabangan dan bentuk pohon yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan produksi yang optimal. Tahapannya yaitu pemotongan batang utama, pemeliharaan tunas, kemudian pemilihan dan pemeliharaan cabang utama (Gambar 1-4).

Pemangkasan pemeliharaan adalah pemangkasan yang dilakukan pada kondisi tertentu terutama setelah panen besar dengan tujuan utam mengatur produksi dan menjaga kesehatan tanaman. Bagian-bagian yang harus dipangkas yaitu tunas liar yang tumbuhnya tegak lurus ke atas dan ke dalam, cabang atau ranting yang sakit, tangkai bekas pendukung buah, cabang/ranting yang terlalu rimbun dan cabang/ranting yang tajuknya bertumpang tindih antara satu pohon dengan pohon lain. Kegiatan ini
Pemangkasan pemeliharaan yang dilakukan pada saat produksi tinggi tidak boleh terlalu banyak karena pada kondisi ini karbohidrat (nutrisi) banyak yang hilang terangkut melalui panen. Apabila dilakukan pemangkasan berat, karbohidrat (cadangan makanan) yang dikumpulkan lebih banyak digunakan untuk membentuk bagian vegetatif (tunas-tunas baru), sehingga produksi bunga menurun. Oleh karena itu pemangkasan berat hanya dilakukan pada kondisi tertentu, misalnya kondisi pohon terlalu rimbun dan produksi buah rendah atau untuk tujuan peremajaan dan pembentukan profil pohon.
d. Penjarangan Buah
Penjarangan dilakukan pada pohon yang mempunyai buah lebat dengan tujuan menghasilkan buah yang penampilannya baik, seragam, dan mengurangi resiko kerusakan/kematian tanaman. Penjarangan dilakukan pada saat ukuran buah sebesar kelereng dan jika produksi masih terlalu tinggi penjarangan berikutnya dilakukan sekitar umur 4 bulan dari saat pembungaan. Buah yang dipetik terutama yang letaknya bergerombol atau jumlahnya lebih dari dua buah/tangkai, ukurannya paling kecil, cacat, dan penampilannya jelek (burik).
e. Penanganan Panen – Pasca Panen
Panen buah dilakukan pada saat umur buah telah mencapai kematangan optimal dengan salah satu kriteria nilai brik sari buah telah mencapai 10%. Tujuannya adalah memperoleh buah jeruk dengan mutu baik sesuai dengan permintaan konsumen, memiliki tingkat kerusakan yang rendah dan tidak mudah rusak pada saat ditransportasi/didistribusikan. Sebelum panen disiapkan alat dan bahan yang meliputi gunting pangkas, keranjang buah, tangga segitiga, refraktometer, timbangan; dan paling sedikit dua minggu sebelum panen aplikasi pestisida dihentikan. Cara panen dilakukan cuaca cerah dengan memangkas tangkai buah dengan menyisakan satu helai daun, lalu dipotong sedekat mungkin dengan buah. Buah-buah tersebut dimasukkan kedalam keranjang kemudian diangkut ke bangunan/gudang dan dicatat jumlah dan asal lokasi panen.
Kegiatan yang dilakukan pasca panen meliputi pembersihan kulit, pelapisan lilin, sortasi buah, pelabelan dan pengemasan berdasarkan ukuran dan standar mutu yang ditetapkan dengan tujuan mendapatkan buah dengan standar mutu seragam pada satu kemasan yang sama.

Mengenal Defisiensi Hara pada Tanaman Jeruk
Masalah defisiensi unsur hara pada tanaman jeruk umumnya masih kurang dipahami. Jika terjadi kelainan pada daun, tanaman dibongkar karena dianggap terserang penyakit CVPD yang hingga kini belum dapat diatasi secara memuaskan. Padahal tidak sedikit gejala yang muncul justru disebabkan oleh masalah nutrisi. Prinsipnya, defisiensi unsur hara biasanya muncul pada seluruh tanaman dalam suatu kebun dan gejalanjya membentuk pola tertentu, dan hal sebaliknya jika disebabkan oleh serangan hama atau penyakit.
Unsur hara makro di dalam tanaman sifatnya relatif mudah bergerak (mobil) sehingga jika terjadi kekurangan, maka unsur tersebut akan dipindahkan dari jaringan tua ke jaringan muda dan gejala defisiensi akan muncul pada daun tua. Kondisi tersebut berlawanan dengan unsur hara mikro. Berikut ilustrasi tentang beberapa masalah nutrisi yang sering terjadi di lapang.
Nitrigen (N). Unsur ini berperan penting untuk pertumbuhan vegetatif sehingga sangat dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan tanaman muda. Ketersediaannya dalam tanah mencapai optimum pada pH antara 6 sampai dengan 8. Kekurangan N sering terjadi pada tanah-tanah berpasir yang sering mengalami pencucian. Gejalanya kekurangan: dimulai dari daun tua berwarna kuning, lalu daun muda berwarna pucat, dan tanaman tumbuh kerdil.
Fosfor (P). Unsur ini berperan penting untuk pertumbuhan tanaman, merangsang akar, pembentukan bunga dan buah. Ketersediaannya dalam tanah mencapai optimum pada pH sekitar 6. Kekurangan P sering terjadi pada tanah-tanah berkapur atau jika diberi pupuk N berlebihan. Tanaman yang kekurangan unsur P biasanya tidak menunjukkan gejala khas di daun seperti unsur lain, tetapi perkembangan akar, pertumbuhan tanaman, pembungaan dan pemasakan buah menjadi terhambat, kualitas buah rendah (kulit kasar, pusat juring berlubang, sari buah rendah/ngapas) dan rasa buah kurang manis.
Kalium (K). Unsur ini sangat dibutuhkan oleh tanaman dewasa untuk memperkokoh tanaman, menjaga agar bunga dan buah tidak rontok, meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama penyakit dan kekurangan air. Jika pH tanah dibawah 6, ketersediaannya mulai menurun. Gejala kekurangan : dimulai dari daun tua, kadang tampak seperti terbakar, warna daun kuning mulai dari bagian pucuk dan pinggir daun atau membentuk pola mirip huruf “V”.
Kalsium (Ca). Unsur ini merupakan komponen terbesar yang menyususn bagian vegetatif, berperan penting untuk membentuk dinding sel dan aktivator enzim. Kekurangan Ca sering terjadi pada tanah-tanah berpasir dan tanah-tanah masam. Unsur ini bersifat antagonis dengan K. Perkembangan akar pada tanaman jeruk yang kekurangan Ca akan terhambat.
Mganesium (Mg). Unsur ini mempunyai peran penting untuk menyusun zat hijau daun (klorofil). Ketersediaanya mencapai optimum pada pH tanah 7 keatas, dan gejala kekurangan seing terjadi pada tanah-tanah masam. Gejala kekurangan : muncul pada daun dewasa, pada tahap awal muncul bercak kuning, selanjutnya secara bertahap melebar memmbetuk huruf “V terbalik”.
Belerang (S). Unsur ini penting untuk menyusun protein dalam tanaman. Kekurangan S sering terjadi pada tanah ber-pH tinggi, dan gejala yang ditimbulkan pada daun mirip dengan gejala kekurangan nitrogen.
Besi (Fe). Sama hal dengan unsur mikro lainnya kecuali molibdenum (Mo), ketersediaan Fe pada pH rendah cenderung meningkat. Kekurangan Fe sering terjadi pada tanah berpasir yang sering mengalami pencucian, tanah berkapur (pH tinggi), tanah-tanah tergenang, atau kelebihan ion antagonis (Ca, Cu, Mg, Mn, Mo, P dan Zn). Gejala kekurangan sering muncul pada awal musim penghujan : daun muda berwarna kuning terang, tulang dan urat daun berwarna hujau pucat, tetapi bentuk dan ukuran daun mendekati normal.
Seng (Zn). Kekurangan Zn sering muncul pada tanah berpasir yang sering mengalami pencucian, tanah berkapur, tanah organik, dan akibat tanah kelebihan ion antagonis N, P, Ca, Cu, Mg dan Na. Gejala kekurangan : daun muda muncul bercak kuning, lalu ukuran daun lebih sempit dan memanjang, jarak antar ruas daun lebih pendek, daun lebih kaku dan berdiri tegak. Tahap lanjut, daun, bunga dan buah akan rontok, rantingnya mengering atau mati pucuk. Buah berukuran kecil dan bentuknya tidak normal.
Mangan (Mn). Kekurangan Mn sering terjadi pada pH tanah tinggi mapun rendah yang sering mengalami pencucian, dan biasanya terjadi bersamaan dengan kekurangan Fe dan Zn sehingga gejala awal sulit dibedakan. Gejala kekurangan : daerah sepanjang tulang daun muda berwarna hijau tua, sedangkan daerah diantara tulang daun berwarna pucat terang. Gejalanya nampak lebih jelas pada daun muda yang terkena sinar matahari, setelah tua warna daun bisa normal kembali.
Tembaga (Cu). Kekurangan Cu sering terjadi pada jeruk manis, pada pH tanah tinggi atau jika ion antagonis seperti N, P, Mg, Fe dan Mo berlebihan. Gejala awal defisiensi ditandai dengan warna daun hijau gelap, mengesankan kelebihan N. Gejala tingkat menengah : batang atau ranting mengeluarkan getah coklat, berkerak, daun rontok dan mati pucuk. Gejala akhir : di dalam buah muncul kantong getah, retakan-retakan kecil hingga melintang pada kulit buah, lalu buah rontok. Pada jeruk nipis, kadar air buah rendah, kadang bentuk buah tidak normal, ranting selalu kecil, berwarna coklat, lalu mati pucuk.
Molibdenum (Mo). Unsur ini kurang tersedia pada tanah masam, dan kebutuhan tanamanan jeruk terhadap Mo lebih sedikit dibandingkan dengan unsur mikro lainnya. Jika ketersedian ion antagonis seperti K, Cu, Mn berlebihan maka akan memnghambat serapan Mo. Gejalanya kekurangan: muncul trotol-trotol (spot) bulat seperti terbakar, lalu berwarna kuning terang. Pada musim hujan daun tersebut menjadi gugur, sedangkan saat kemarau kembali normal atau hijau kekuning-kuningan.
Bororn (B). Gejala kekurangan sering muncul pada musim kemarau panjang, utamanya pada tanah berkapur. Ketersediaan ion antagonis seperti N, K dan Ca yang berlebihan akan menghambat serapan B. Gejala kekurangan : daun muda nampak lemas seperti layu, kemudian mengkerut atau keriting. Bentuk buah tidak normal, dari bagian dalam kulit atau segmen mengeluarkan getah.
Kuning Tulang Daun. Kuning daun merupakan gejala fisiologis paling banyak ditemukan pada tanah dangkal, tanah berat, draenasi tanah jelek. Gejala awal ditandai dengan munculnya warna kuning pucat pada seluruh tulang dan urat daun, lalu seluruh helaian dan menguning, ukuran daun kadang mengecil dan kaku, bungan dan buah rontok, lalu tanaman merana dan

About thariqsirajramadhan

lahir di kota magetan, putra kedua dari bpk. sutopo
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s